Tamu hari ini
Senin, 17 Maret 2014
Minggu, 16 Maret 2014
makalah metode pembelajaran
PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
(CONTEKSTUAL LEARNING)
Makalah di susun
Guna memenuhi tugas mata kuliah Metode Pembelajaran MI/SD
Dosen pengampu Suyatno,M.Pd.I
Disusun oleh :
KELOMPOK III
TRI WULANDARI NIM : 0610300182203120115
UMI ZULAIKHA NIM : 0610300182203120116
SOBIKHAN NIM : 0610300182203120117
SRI KARYANAH NIM : 0610300182203120118
SUTONGAT NIM : 0610300182203120119
NUR HAYAT NIM : 0610300182203120124
WAHYU HIDAYAT NIM : 0610300182203120122
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN ( FITK )
UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN ( UNSIQ ) JAWA TENGAH
DI WONOSOBO
2013
Kata Pengantar
Dengan memanjatkan Puji syukur Kehadirat Allah SWT sehingga atas limpahan Hidayahnya kami dapat menyelesaikan penyusunan tugas mata kuliah Profes keguruan ini tanpa hambatan, semoga dengan makalah sederhana ini dapat memberikan tambahan wawasan kepada kita semua.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Dosen pengampu, yang telah memberikan tugas kepada kami sehingga makalah ini dapat kami selesaikan serta menambah wawasan kami tentangarti penting sebuah pelaksanaan dalam proses belajar mengajar, harapan kami ada setelah selesai penyusunan makalah ini dapat mengubah pola pembelajaran yang selam ini dilaksanakan.
Kami menyadari dalam penusunan tugas ini masih dapat kekurangan, kami dengan segenap kerendahan hati kami senantiasa memohon kritik dan saran yang sifatnya konstruktif dari pembaca sekalian sehingga dalam penyusunan tugas berikutnya akan lebih baik lagi.
Akhirnya semoga kehadiran makalah sederhana ini bermanfaat
Wonosobo, Maret 2013
Penyusun,
Daftar isi
Halaman Judul
Daftar isi …………………………………………………………………….. ii
Kata pengantar ……………………………………………………………... iii
BAB I : PENDAHULUAN…………………………………………………
Latar Belakang masalah ………………………………………. 1
BAB II : PEMBAHASAN
a. Pengertian Pembelajaran kontekstual …………………… 3
b. Penerapan CTL di dalam kelas ………………………….. 4
c. Karakteristik Pembelajaran kontekstual …………………. 9
d. Tujuan Pembelajaran kontekstual ………………………... 11
e. Kelebihan dan kekurangan pembelajaran kontekstual ……. 12
f. Perbedaan pembelajaran kontekstual dengan konvensional 14
BAB III : PENUTUP
Kesimpulan ……………………………………………………. 16
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG MASALAH
Perkembangaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat menuntut sumber daya manusia yang memilih keahlian dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan zaman sekarang. Oleh sebab itu pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam upaya untuk membebaskan manusia dari keterpurukan, keterbelakangan, kebodohan, kehinaan, dan ketertinggalan globalisasi. Peranan pendidikan dalam kehidupan manusia adalah sebagai upaya untuk mengangkat dan dapat mengatasi permasalahan kehidupan.
Pendidikan di Indonesia pada umumnya mempunyai ciri-ciri cenderung memperlakukan peserta didik berstatus sebagai obyek, guru berfungsi sebagai pemegang otoritas tertinggi keilmuan dan indoktrinator, materi bersifat subject-oriented, dan manajemen bersifat sentralistis. Pendidikan yang demikian menyebabkan praktik pendidikan kita mengisolir diri dari kehidupan riil yang ada di luar sekolah, kurang relevan antara apa yang diajarkan dengan kebutuhan dalam pekerjaan, terlalu terkonsentrasi pada pengembangan intelektual yang tidak berjalan dengan pengembangan individu sebagai satu kesatuan yang utuh dan berkepribadian. Hal ini mengidentifikasikan bahwa dalam pembelajaran di sekolah guru masih menggunakan cara-cara tradisional atau konvensional.
Oleh karena itu, pemerintah mengadakan satu terobosan untuk meningkatan mutu pendidikan dengan terjadi pergeseran paradigma pendidikan dari teacher active learning menjadi student active learning. Terobosan yang telah dilakukan pemerintah ini menunjukkan bahwa peran aktif siswa dalam pembelajaran merupakan suatu keharusan. Salah satu strategi pembelajaran yang dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan dengan produktif dan bermakna bagi siswa adalah strategi pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yang selanjutnya disebut CTL. Strategi CTL fokus pada siswa sebagai pembelajar yang aktif, dan memberikan rentang yang luas tentang peluang-peluang belajar bag mereka yang menggunakan kemampuan-kemampuan akademik mereka untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan nyata yang kompleks (Depdiknas, 2002: 15).
Dengan menerapkan pembelajaran menggunakan pendekatan contextual teaching and learning di harapkan siswa memiliki pengalaman baru dalam belajar, yakni pembelajaran diluar kelas, pengalaman belajar sama dan pengalaman untuk menyampaikan gagasan atau informasi di depan kelas disamping para siswa memperoleh pengalaman langsung dalam menemukan pengetahuannya.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Pembelajaran Kontekstual
Model pembelajaran dengan kontekstual adalah terjemahan dari istilah Contextual Teaching and Learning (CTL). Kata contextual berasal dari kata context yang berarti “ hubungan, konteks, suasana, atau keadaan”. Dengan demikian contextual diartikan “ yang berhubungan dengan suasana (konteks)”, sehingga CTL dapat diartikan sebagai suatu pembelajaran yang berhubungan dengan suasana tertentu.
Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antar pengetahuan yang dimiliki dengan penerapan dalam kehidupan mereka sebagai angota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alami dalam bentuk kegiatan siswa berkerja dan mengalami bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi lebih dipentingkan dari pada hasil belajar.
Menurut Johnson dalam Nurhadi, sistem CTL merupakan suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara mengubungkan dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadi,sosialnya, dan budayanya.
Pembelajaran kontekstual merupakan suatu model pembelajaran yang memberikan fasilitas kegiatan belajar siswa untuk mencari, mengolah, dan menemukan pengalaman belajar yang lebih bersifat konkret (terkait dengan kehidupan nyata) melalui keterlibatan aktivitas siswa dalam mencoba, melakukan, dan mengalami sendiri. Dengan demikian, pembelajaran tidak sekadar dilihat dari sisi produk, tetapi yang terpenting adalah proses.
2. Penerapan CTL di dalam Kelas.
Model penerapan pembelajaran berbasis CTL ini memiliki tujuh komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual di kelas. Ketuju komponen utama itu adalah konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), refleksi (Reflection), dan penilaian sebenarnya (Auhentic Assessment). Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan kontekstual jika menerapkan ketujuh komponen tersebut dalam pembelajaranya.
a. Konstruktivisme (Constructivism)
Konstruktivisme (Constructivism) merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran kontekstual, bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekoyong-koyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, dan kaidah yang kontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
b. Bertanya (Questioning)
Bertanya (Questioning) merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis kontekstual. Bertanyak dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membingbing, dan menilai kemampuan berfikir siswa. Dan bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiry, yaitu menggali informasi, menkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahui.
c. Menemukan (Inquiry)
Menemukan (Inquiry) merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh oleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta- fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkan.
d. Masyarakat belajar (Learning Community)
Masyarakat Belajar (Learning Community) merupakan pembelajaran yang diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari shering antar teman, antar kelompok, antar mereka yang tahu, ke mereka yang belum tahu.
Dalam kelas pendekatan kontekstual, kegiatan pembelajaran dapat dilakukan dalam kelompok-kelompok belajar: siswa yang pandai mengajari siswa yang lemah, dan yang tahu memberi tahu yang belum tahu. Masyarakat belajar bisa tercipta apabila ada proses komunikasi dua arah.
e. Pemodelan (Modeling)
Pemodelan (Modeling) adalah sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, pemodelan pada dasarnya membahasakan gagasan yang dipikirkan, mendemonstrasikan, dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswa-siswanya melakukan. Dalam pembelajaran kontekstual guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang melibatkan siswa. Seorang siswa bisa ditunjuk untuk memberi contoh temen-temannya.
f. Refleksi (Reflection)
Refleksi (Reflection) merupakan bagian penting dari pembelajaran kontekstual. Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir kebelakang tentang apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Refleksi merupakan gambaran terhadap kegiatan atau pengetahuan yang baru saja diterima. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima.
g. Penilaian sebenarnya (Auhentic Assessment).
Penilaian Sebenarnya (Authentic Assessment) adalah proses yang di lakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian ini diperlukan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak. Apakah pengalaman belajar siswa memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun metal siswa
Sebelum melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan Kontekstual, tentu saja terlebih dahulu guru harus membuat desain/skenario pembelajarannya, sebagai pedoman umum dan sekaligus sebagai alat kontrol dalam pelaksanaannya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh guru atau pengajaran ketika menyusun rencana pembelajaran yang kontekstual adalah sebagai berikut.
a. Pendahuluan/orientasi
Pendahuluan yang baik mengandung 3 unsur yaitu deskripsi singkat, relevansi atau manfaat belajar dan menjelaskan tujuan belajar.
b. Konstruktivisme
Tampak dari pemberian kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan mengkonstruksi sedikit demi sedikit pengetahuan yang sedang dipelajari melalui keterlibatan aktif dalam belajar.
c. Penemuan/inkuiri
Berupa pemberian kebebasan kepada siswa untuk bereksplorasi, ada keterlibatan intelektual dan emosial termasuk keterlibatan fisik jika diperlukan. Pengajar sebagai fasilitator.
d. Pertanyaan-pertanyaan
Mengembangkan pertanyaan-pertanyaan siswa tampak dari cara guru atau pengajar mendorong, membimbing, dan berupaya meningkatkan kemajuan berfikir siswa. Siswa menggali informasi, mengkonfirmasi, dan mengarahkan terhadap perhatian pada hal-hal yang belum diketahui.
e. Masyarakat belajar
Tampak dari aktivitas belajar secara kelompok (kooperatif/kolaboratif), tanggung jawab bersama dalam menyelesaikan tugas dan berbagai pengalaman.
f. Permodelan
Memberi contoh yang dapat ditiru atau dijadikan sebagai acuan oleh siswa termasuk petunjuk mengerjakan sesuatu. Pengajar bukan satu-satunya model.
g. Refleksi
Mengajak siswa berfikir tentang apa yang baru saja dipelajari, menghubungkan pengetahuan yang baru dipelajari dengan pengetahuan yang sudah dimiliki.
h. Penilaian autentik
Lebih mengutamakan proses daripada hasil. Dilakukan dengan berbagai cara, dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran langsung. Yang diukur keterampilan bukan mengingat fakta semata.
i. Waktu
Dalam satu kali tatap muka, pengaturan penggunaan waktu yang baik adalah 5% pendahuluan, 80-90% waktu belajar, 10-15% penutup.
j. Penutup
Berupa penyimpulan, pembuatan ringkasan, pemberian umpan balik
Beberapa model pembelajaran yang merupakan aplikasi pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut.
a) Model Pembelajaran Langsung
Inti dari model pembelajaran langsung adalah guru mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan tertentu, selanjutnya melatihkan keterampilan tersebut selangkah demi selangkah kepada siswa
b) Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Inti dari pembelajaran berbasis masalah adalah guru menghadapkan siswa pada situasi masalah kehidupan nyata (autentik) dan bermakna, memfasilitasi siswa untuk memecahkannya melalui penyelidikan/ inkuari dan kerjasama, memfasilitasi dialog dari berbagai segi, merangsang siswa untuk menghasilkan karya pemecahan dan peragaan hasil.
c) Model Pembelajaran Koperatif
Inti model pembelajaran koperatif adalah siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil, yang anggota-anggotanya memeliki tingkat kemampuan yang berbeda (heterogen). Dalam memahami suatu bahan pelajaran dan menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerjasama sampai seluruh anggota menguasai bahan pelajaran tersebut. Dalam variasinya ditemui banyak tipe pendekatan pembelajaran kooperatif misalnya STAD (Student Teams Achievement Division), Jigsaw, Investigasi Kelompok, dan Pendekatan Struktural.
3. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual
Karakteristik pembelajaran kontekstual dikemukakan oleh beberapa ahli. Menurut Johnson (2002:24), ada delapan komponen utama dalam system pembelajaran kontekstual, seperti dalam rincian berikut :
a) Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningful connections). Siswa dapat mengatur diri sendiri sebagai orang yang belajar secara aktif dalam mengembangkan minatnya secara individual, orang yang dapat bekerja sendiri atau bekerja dalam kelompok, dan orang yang belajar sambil berbuat (learning by doing)
b) Melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan (doing significant work). Siswa membuat hubungan-hubungan antara sekolah dan berbagai konteks yang ada dalam kehidupan nyata sebagai pelaku bisnis atau anggota masyarakat
c) Belajar yang diatur sendiri (sell-regulated learning). Siswa melakukan pekerjaan yang signifikan: ada tujuannya, ada hubungan dengan penentuan pilihan, dan ada produknya
d) Bekerja sama (collaborating). Siswa dapat bekerja sama. Guru membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok
e) Berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking). Siswa dapat menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi secara kritis dan kreatif: dapat menganalisis, memecahkan masalah, membuat keputusan, dan menggunakan logika dan bukti
f) Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nurturing the individual). Siswa memelihara pribadinya
g) Mencapai standar yang tinggi (reaching high standards). Siswa mengenal dan mencapai standar yang tinggi: mengidentifikasi tujuan dan memotivasi siswa untuk mencapainya.
h) Menggunakan penilaian autentik (using authentic assessment). Siswa menggunakan pengetahuan akademis dalam konteks dunia nyata untuk suatu tujuan yang bermakna.
Pendapat lainnya yaitu Rusman (2009:248) yang memaparkan proses pembelajaran dengan menggunakan CTL harus mempertimbangkan karakteristik-karakteristik : (1) kerja sama, (2) saling menunjang, (3) menyenangkan dan tidak membosankan, (4) belajar dengan bergairah, (5) pembelajaran terintegrasi, (6) menggunakan berbagai sumber, (7) siswa aktif, (8) sharing dengan teman, (9) siswa kritis guru kreatif, (10) dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, (11) laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan praktikum, karangan siswa, dan lain-lain.
Sehubungan dengan hal tersebut, terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran kontekstual seperti dijelaskan oleh Dr. Wina Sanjaya, M.Pd (2005:110), sebagai berikut:
a) Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activiting kowledge), artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari., dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
b) Pembelajaran kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge). Pengetahuan baru itu diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan, kemudian memperhatikan detailnya.
c) Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tapi untuk dipahami dan diyakini, miasalnya dengna cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.
d) Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying kowledge) artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan perilaku siswa.
e) Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan atau penyempurnaan strategi.
4. Tujuan Pembelajaran Kontekstual
Sistem CTL adalah proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan jalan menghubungkan mata pelajaran akademik dengan isi kehidupan sehari-hari, yaitu dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain penggunaan pembelajaran Konstekstual bermotto : “Belajar dengan penuh makna”. Pengetahuan yang bermakna diperoleh dari suatu proses yang bermakna pula, yaitu melalui penerimaan, pengolahan dan pengendapan, untuk kemudian dapat dijadikan sandaran dalam menanggapi gejala yang muncul kemudian. Melalui model CTL, pengalaman belajar bukan hanya terjadi dan dimiliki ketika seseorang siswa berada di dalam kelas, tetapi jauh lebih penting dari itu adalah bagaimana membawa pengalaman belajar tersebut keluar dari kelas, yaitu pada saat ia dituntut untuk menanggapi dan memecahkan permasalahan yang nyata yang dihadapi sehari-hari. Berikut tujuan-tujuan pembelajaran kontekstual :
a) Untuk memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengaitkan materi tersebut dalam konteks kehidupan mereka sehari-hari sehingga siswa memiliki pengetahuan atau keterampilan yang secara refleksi dapat diterapkan dari permasalahan ke permasalahan lainnya.
b) Agar dalam belajar itu tidah hanya sekedar menghafal tetapi perlu dengan adannya pemahaman
c) Menekankan pada pengembangan minat pengalaman siswa.
d) Untuk melatih siswa agar dapat berfikir kritis dan terampil dalam memproses pengetahuan agar dapat menemukan dan menciptakan sesuatau yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain.
e) Agar pembelajaran lebih produktif dan bermakna.
f) Untuk mengajak anak pada suatu aktivitas yang mengaitkan materi akademik dengan konteks kehidupan sehari-hari.
g) Agar siswa secara individu dapat menemukan dan mentransfer informasi-informasi kompleks dan siswa dapat menjadikan informasi itu miliknya sendiri.
5. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Kontekstual
Adapun beberapa keunggulan dari pembelajaran Kontekstual adalah :
1) Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut untuk dapat menagkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sihingga tidak akan mudah dilupakan.
2) Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”.
3) Kontekstual adalah model pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa secara penuh, baik fisik maupun mental
4) Kelas dalam pembelajaran Kontekstual bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi, akan tetapi sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan mereka di lapangan
5) Materi pelajaran dapat ditemukan sendiri oleh siswa, bukan hasil pemberian dari guru.
6) Penerapan pembelajaran Kontekstual dapat menciptakan suasana pembelajaran yang bermakna
Sedangkan kelemahan dari pembelajaran Kontekstual adalah sebagai berikut :
a. Diperlukan waktu yang cukup lama saat proses pembelajaran Kontekstual berlangsung.
b. Jika guru tidak dapat mengendalikan kelas maka dapat menciptakan situasi kelas yang kurang kondusif
c. Guru lebih intensif dalam membimbing. Karena dalam metode CTL, guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ”penguasa” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
d. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide–ide dan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi–strategi mereka sendiri untuk belajar. Namun dalam konteks ini tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diterapkan semula.
e. Pengetahuan yang didapat oleh setiap siswa akan berbeda-beda dan tidak merata.
6. Perbedaan Pembelajaran kontekstual dengan pembelajaran Konvensional
Karakteristik model pembelajaran kontekstual dalam penerapannya di kelas, antara lain :
1. Siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran
2. Siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengoreksi
3. Pembelajaran dihubungkan dengan kehidupan nyata atau masalah
4. Perilaku dibangun atas kesadaran diri.
5. Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman
6. Peserta didik tidak melakukan yang jelek karena dia sadar hal itu keliru dan merugikan.
7. Bahasa diajarkan dengan pendekatan komunikatif, yakni peserta didik diajak menggunakan bahasa dalam konteks nyata.
Karakteristik model pembelajaran konvensional dalam penerapannya di kelas, antara lain :
1. Siswa adalah penerima informasi
2. Siswa cenderung belajar secara individual
3. Pembelajaran cenderung abstrak dan teoritis
4. Perilaku dibangun atas kebiasaan
5. Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan
6. Peserta didik tidak melakukan yang jelek karena dia takut hukuman
7. Bahasa diajarkan dengan pendekatan struktural.
Pembelajaran kontekstual memiliki perbedaan dengan pembelajaran konvensional, tekanan perbedaannya yaitu pembelajaran kontekstual lebih bersifat student centered (berpusat kepada peserta didik) dengan proses pembelajarannya berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan peserta didik bekajar dan mengalami. Sedangkan pembelajaran konvensional lebih cenderung teacher centered (berpusat kepada pendidik), yang dalam proses pembelajarannya siswa lebih banyak menerima informasi bersifat abstrak dan teoritis.
BAB III
Penutup
Berdasarkan Uraian di atas, dapat kami simpulkan bahwa :
1. Model-model pembelajaran sosial merupakan pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan di kelas dengan melibatkan peserta didik secara penuh (student center) sehingga peserta didik memperoleh pengalaman dalam menuju kedewasaan, peserta dapat melatihkemandirian peserta didik dapat belajar dari lingkungan kehidupannya.
2. Dalam menyiapkan anak untuk bersosialisasi di masyarakat, sejak dini anak harus sudah mengenal lingkungan kehidupannya. Model pembelajaran kontekstual merupakan upaya pendidik untuk menghubungkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik melakukan hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka.
3. Dalam rangka menuju kedewasaan, seorang anak harus dilatih untuk belajar mandiri. Belajar mandiri merupakan suatu proses, dimana individu mengambil inisiatif denganatau tanpa bantuan orang lain. Dalam pembelajaran mandiri menekankan pada keaktifan peserta didik yang lebih bersifat student centered daripada teacher centered sehingga pendidik lebih banyak berperan sebagai fasilitator dan teman (partner).
DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Pendidikan Lanjutan Pertama Pendekatan Kontekstual (Centered Teaching and Learning), Jakarta, 2003
Fatah Yasin, Dimensi – Dimensi Pendidikan Islam, Malang: UIN – Malang Pres , 2008
M. Silberman dan Fatah Yasin, Dimensi – Dimensi Pendidikan Islam , Malang: UIN – Malang Pres 2008,
Nurhadi, dkk ,
Pembelajaran konstektual dan penerapannya dalam KBK , Malang: Universitas Negeri Malang, 2004
Hartadi, M.Pd.I dalam Http ://Pembelajaran kontekstual.Blogspot.com /09/10/2007/001.html diunduh tanggal 18 April 2013
Wi na Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Kompetensi , Jakarta: Kencana, 2005,
Kumpulan tugas kuliah terbiyah_ Mata kuliah Profesi Keguruan
IMPLEMENTASI PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
MENUJU GURU PROFESIONAL
Makalah ini di susun
Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Profesi Keguruan
Dosen Pengampu : Panut, S.Pd.MM
Oleh :
SRI KARYANAH NIM :
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN(UNSIQ)
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
2012
Kata Pengantar
Dengan memanjatkan Puji syukur Kehadirat Allah SWT sehingga atas limpahan Hidayahnya kami dapat menyelesaikan penyusunan tugas mata kuliah Profes keguruan ini tanpa hambatan, semoga dengan makalah sederhana ini dapat memberikan tambahan wawasan kepada kita semua.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Dosen pengampu, yang telah memberikan tugas kepada kami sehingga makalah ini dapat kami selesaikan serta menambah wawasan kami tentangarti penting sebuah pelaksanaan dalam proses belajar mengajar, harapan kami ada setelah selesai penyusunan makalah ini dapat mengubah pola pembelajaran yang selam ini dilaksanakan.
Kami menyadari dalam penusunan tugas ini masih dapat kekurangan, kami dengan segenap kerendahan hati kami senantiasa memohon kritik dan saran yang sifatnya konstruktif dari pembaca sekalian sehingga dalam penyusunan tugas berikutnya akan lebih baik lagi.
Akhirnya semoga kehadiran makalah sederhana ini bermanfaat
Wonosobo, Oktober 2012
Penyusun,
Daftar isi
Halaman Judul ................................................................................................... i
Kata pengantar................................................................................................... ii
Daftar isi ............................................................................................................ iii
BAB I : Pendahuluan ............................................................................ 1
Latar Belakang masalah........................................................... 1
Rumusan Masalah.................................................................... 2
BAB II : Pembahasan
Ketrampilan pengelolaan Kelas .............................................. 3
BAB III : Penutup.................................................................................... 14
Kesimpulan.............................................................................. 14
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan membina anak didik, baik secara individual maupun klasikal, di sekolah maupun diluar sekolah. Mengajar adalah perilaku yang universal, artinya semua orang dapat melakukannya, akan tetapi bagi seorang guru untuk dapat mengajar dengan baik diperlukan keahlian. Guru dituntut bukan hanya menguasai materi saja, tetapi juga harus menguasai tentang pendidikan dan pengajaran, disamping syarat-syarat khusus yang lain yang akan menjadikannya sebagai guru yang berkompeten dalam bidangnya, sehingga proses interaksi edukatif dapat berjalan dengan optimal dan mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif bagi anak didik.
Dalam proses belajar mengajar guru mempunyai peran yang sangat penting dalam menentukan kualitas pembelajaran yang dilaksanakan, dalam arti guru harus selalu menciptakan suasana yang kondusif dalam lingkungan pendidikan dan menjalankan tugasnya di dalam kelas dengan semaksimal mungkin demi tercapainya tujuan pendidikan. Guru memiliki peranan yang sangat sentral, baik sebagai perencana, pelaksana, maupun evaluator pembelajaran. Maka seorang guru hendaknya tidak memiliki pandangan bahwa mengajar hanya merupakan tugas yang telah menjadi kebiasaan sehingga dia terpaku dengan cara dan gaya lama, tidak ada dinamika. Tetapi sebaliknya, guru diharapkan untuk selalu melakukan inovasi dan kreativitas untuk mengembangkan proses pembelajaran kearah yang lebih baik, efektif dan efisien.
Secara konseptual, guru dan murid adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam proses belajar dan mengajar. Keduanya adalah sumber ilmu untuk bersama menggali pengalaman hidup sendiri, dan secara otomatis ia memiliki ilmu yang setara dengan yang lain. Pola hubungan yang setara semacam ini memberi peluang datangnya ilmu dari segala sumberilmu, karena masing-masing individu memiliki pengalaman sendiri-sendiri. Oleh karena itu, hubungan yang dialogis antara guru dan murid adalah langkah awal untuk membuka lebar-lebar pintu transformasi
Dengan demikian untuk menciptakan situasi yang kondusif demi memperoleh hasil yang efektif dalam proses belajar mengajar tidaklah cukup ditunjang oleh penguasaan materi saja, tetapi guru juga harus mempunyai keterampilan pengelolaan kelas yang diharapkan akan dapat membantu dalam menjalankan tugas dalam interaksi edukatif. Keterampilan pengelolaan kelas merupakan faktor dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru untuk meningkatkan mutu pengajaran, sehingga output yang dihasilkan akan maksimal.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut; bagaimana implementasi keterampilan pengelolaan kelas dalam pembelajaran?
BAB II
Pembahasan Masalah
Keterampilan Pengelolaan Kelas
a) Pengertian Keterampilan Pengelolaan Kelas
Keterampilan adalah kegiatan yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot yang lazimnya tampak dalam kegiatan jasmaniah, seperti menulis, mengetik, olah raga, dan sebagainya. Pengelolaan adalah proses, cara, perbuatan mengelola, proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan kebijaksanaan dan pencapaian tujuan.
Sedangkan kelas adalah tempat berlangsungnya pembelajaran yang di dalamnya terdapat guru menyampaikan materi pada siswa pada waktu yang sama. Di dalam belajar mengajar, kelas adalah tempat yang mempunyai ciri khas yang digunakan untuk belajar yang memerlukan konsentrasi, untuk menciptakan suasana kelas yang menunjang kegiatan belajar yang efektif.
Pengelolaan kelas dapat diartikan suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar atau yang membantu dengan maksud agar dicapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan. Pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif, dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran.
b) Tujuan Pengelolaan Kelas
Keterampilan mengelola kelas mempunyai tujuan, yang baik untuk anak didik maupun guru, yakni:
1. Untuk Anak didik
a. Mendorong anak didik mengembangkan tanggung jawab individu terhadap tingkah lakunya dan kebutuhan untuk mengontrol diri sendiri.
b. Membantu anak didik mengetahui tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib kelas dan memahaminya. Bahwa teguran guru merupakan suatu peringatan dan bukan kemarahan.
c. Membangkitkan rasa tanggung jawab untuk melibatkan diri dalam tugas dan pada kegiatan yang diadakan.
2. Untuk Guru
a. Mengembangkan pemahaman dalam penyampaian pelajaran dengan pembukaan yang lancar dan kecepatan yang tepat.
b. Menyadari kebutuhan anak didik dan memiliki kemampuan dalam memberikan petunjuk secara jelas kepada anak didik.
c. Mempelajari bagaimana merespon secara efektif terhadap tingkah laku anak didik yang mengganggu.
d. Memiliki strategi remedial yang lebih komprehensif yang dapat digunakan, dalam lingkungannya dengan masalah tingkah laku anak didik yang muncul di dalam kelas.
Pengelolaan kelas yang dilakukan guru bukan tanpa tujuan, karena ada tujuan itulah guru selalu berusaha mengelola kelas. Darwyn Syah mengutip dari Syaiful Bahri dan Aswan Zain bahwa pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakan kondisi dalam kelompok kelas yang berupa lingkungan kelas yang baik, yang memungkinkan siswa berbuat sesuai dengan kemampuannya, dengan pengelolaan kelas produknya harus sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, yaitu dengan penyediaan fasilitas bermacam-macam kegiatan belajar mengajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual di kelas.
c) Ruang Lingkup Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas yang efektif akan terwujud manakala dengan melaksanakan aspek ruang lingkup di dalamnya. Menurut Dr. Suharsimi Arikunto ada dua aspek yang harus dilakukan menyangkut pengelolaan yang menyangkut siswa dan pengelolaan yang menyangkut fisik (ruangan, perabot, dan alat pelajaran).
Sedangkan dalam menciptakan suasana yang dapat menimbulkan gairah belajar, meningkatkan prestasi belajar, dan memberi bimbingan dan bantuan terhadap siswa diperlukan pengorganisasian kelas yang memadai untuk menumbuhkan dan mempertahankan kelas yang efektif, yang harus memiliki: tujuan pengajaran, pengaturan waktu yang tersedia, pengaturan ruang dan perabot pelajaran di kelas, dan pengelompokan siswa dalam belajar.
d) Prinsip-Prinsip Pengelolaan Kelas
Sebagai upaya memperkecil masalah gangguan dalam pengelolaan kelas, sebagai prasyarat menciptakan satu model pembelajaran yang efektif dan efisien, beberapa prinsip-prinsip pengelolaan kelas yang dapat dipergunakan antara lain hangat dan antusias, tantangan, bervariasi, keluwesan, penekanan pada hal-hal yang positif, dan penanaman disiplin diri.
1. Hangat dan Antusias
Guru yang hangat dan penuh keakraban dengan anak didik selalu menunjukkan semangat tanggung jawabnya dan keinginannya untuk melaksanakan tugasnya sebagai guru dengan sebaik-baiknya, hal ini akan berhasil dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas.
2. Tantangan
Tantangan dapat diberikan kepada siswa dengan menggunakan kata-kata, tindakan, cara kerja, atau bahan-bahan dalam rangka meningkatkan gairah anak didik untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang.
3. Bervariasi
Variasi dalam penggunaan alat atau media, atau alat bantu, gaya mengajar guru, pola interaksi antara guru dan siswa akan dapat mengurangi munculnya gangguan dalam proses pembelajaran, serta dapat meningkatkan perhatian siswa.
4. Keluwesan
Keluwesan tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan dari siswa serta menciptakan iklim belajar mengajar yang efektif.
5. Penekanan pada Hal-Hal yang Positif
Dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan serta mengarahkan siswa berpikir dan berbuat kepada hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian anak didik pada hal-hal yang negatif.
6. Penanaman Disiplin Diri
Disiplin belajar siswa dan disiplin kelas menjadi tujuan akhir dari pengelolaan kelas, dan guru mengupayakan agar siswa dapat mengembangkan disiplin diri sendiri, oleh karena itu guru sebaiknya selalu mendorong anak didik untuk melaksanakan disiplin diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi teladan mengenai pengendalian diri dan pelaksanaan tanggung jawab serta menjadi tuntunan kepada guru untuk selalu berdisiplin dalam segala hal bila ingin anak didiknya ikut berdisiplin dalam berbagai hal.
e) Komponen Keterampilan Pengelolaan Kelas
Komponen-komponen ketrampilan pengelolaan kelas ini pada umumnya dibagi menjadi dua bagian, yaitu ketrampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif) dan ketrampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal.
1. Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif).
Keterampilan ini berkaitan dengan kemampuan guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran serta kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan hal-hal tersebut yang meliputi keterampilan sebagai berikut:
a. Menunjukkan sikap tanggap
Tanggap terhadap perhatian, keterlibatan, ketidakacuhan, dan keterlibatan siswa dalam tugas-tugas di kelas. Siswa merasa bahwa guru hadir bersama mereka dan tahu apa yang mereka perbuat.
b. Memberikan Perhatian
Pengelolaan kelas yang efektif terjadi bila guru mampu memberi perhatian kepada beberapa kegiatan yang berlangsung dalam waktu yang sama. Membagi perhatian dapat dilakukan dengan cara visual dan verbal.
c. Memusatkan Perhatian Kelompok
Kegiatan siswa dalam belajar dapat dipertahankan apabila dari waktu ke waktu guru mampu memusatkan perhatian kelompok terhadap tugas-tugas yang dilakukan.
d. Memberikan Petunjuk-petunjuk Yang Jelas
Hal ini berhubungan dengan cara guru dalam memberikan petunjuk agar jelas dan singkat dalam pelajaran sehingga tidak terjadi kebingungan pada diri siswa.
e. Menegur
Apabila terjadi tingkah laku siswa yang mengganggu kelas atau kelompok dalam kelas, hendaklah guru mengaturnya secara verbal. Teguran verbal yang efektif ialah yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Tegas dan jelas tertuju kepada siswa yang mengganggu serta kepada tingkah lakunya yang menyimpang.
2. Menghindari peringatan yang kasar dan menyakitkan atau yang mengandung penghinaan.
3. Menghindari ocehan atau ejekan, lebih-lebih yang berkepanjangan.
f. Memberi Penguatan
Dalam hal ini guru dapat menggunakan dua cara yaitu: Pertama, Guru dapat memberikan penguatan kepada siswa yang mengganggu, yaitu dengan jalan menangkap siswa tersebut ketika ia sedang melakukakan tingkah laku yang tidak wajar, kemudian menegurnya. Kedua, Guru dapat memberikan penguatan kepada siswa yang bertingkah laku wajar dan dengan demikian menjadi contoh atau teladan tentang tingkah laku positif bagi siswa yang suka mengganggu.
Dengan demikian pemberian penguatan dalam pembelajaran, adalah penting untuk menumbuhkan motivasi belajar dan rasa percaya diri siswa.
2. Keterampilan Yang Berkaitan dengan Pengembalian Kondisi Belajar Yang Optimal
Keterampilan ini berkaitan dengan respon guru terhadap gangguan siswa yang berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat mengadakan tindakan remedial untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal.
f) Guru Sebagai Agen Pembelajaran
Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (SNP) pasal 28, dikemukakan bahwa : “Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”. Dalam penjelasan Undang-undang tersebut tercantum bahwa: “ yang dimaksud pendidik sebagai agen pembelajaran (learning agent) adalah peran pendidik antara lain sebagai fasilitator, motivator, pemacu, maupun pemberi inspirasi.
a. Guru sebagai fasilitator
Sebagai fasilitgator,tugas guru yang paling utama adalah “to facilitate of learning” (memberi kemudahan belajar), bukan hanya menceramahi, atau mengajar, apalagi menghajar peserta didik, kita perlu guru yang demokratis, jujur dan terbuka, serta siap dikritik oleh peserta didiknya.
Guru sebagai fasilitator sedikitnya harus memiliki 7(tujuh) sikap seperti yang diidentifikasikan Rogers ( dalam Knowles,1984) berikut ini :
1) Tidak berlebihan mempertahankan pendapat dan keyakinannya, atau kurang terbuka;
2) Dapat lebih mendengarkan peserta didik, terutama tentang aspirasi dan perasaannya;
3) Mau dan mampu menerima ide peserta didik yang inovatif, dan kreatif, bahkan, bayang sulit sekalipun
4) Lebih meningkatkan hubungan dengan peserta didik seperti halnya terhadap bahan pembelajaran;
5) Dapat menerima balikan(feedback), baik yang sifatnya positif mauoun yang negatif,dan menerimanya sebagai pandangan yang konstruktif terhadap diri dan perilakunya;
6) Toleransi terhadap kesalahan yang diperbuat peserta didik selama proses pembelajaran;dan
7) Menghargai prestasi peserta didik, meskipun biasanya mereka sudah tau prestasi yang dicapainy.
b. Guru sebagai motivator
Motivasi merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, karena peserta didik akan belajar dengan sungguh-sungguh apabila memiliki motivasi yang tinggi. Oleh karena itu, untuk meningktkan kualitas pembelajaran guru harus mampu membangkitkan motivasi belajar peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran.
c. Guru sebagai pemacu
Sudah menjadi kodrat manusia sebagai mahluk sosial, artinya manusia selalu membutuhkan orang lain untuk membantu dirinya. Demikian juga peserta didik yang selalu membutuhkan bantuan guru untuk mengembangkan dirinya secara optimal. Guna mengembangkan bakat, minat, kemampuan dan potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Dalam upaya memacu pembelajaran, guru harus memberikan kemudahan belajar terhadap seluruh siswanya. Dalam hal ini guru harus kreatif, profesional, dan menyenangkan dengan memposisikan sebagai berikut :
1) Orang tua yang penuh kasih sayang pada peserta didiknya;
2) Teman, tempat mengadu, dan mengutarakan perasaan bagi perasaan bagi peserta didiknya;
3) Fasilitator yang selalu siap memberikan kemudahan, dan melayani peserta didik sesuai minat, kemampuan, dan bakatnya;
4) Memberikan sumbangan pemikiran kepada orang tua untuk dapat mengetahui permasalahan yang dihadapi anak dan memberikan saran pemecahannya;
5) Memupuk rasa percaya diri, berani dan bertanggung jawab.
6) Membiasakan peserta didik untuk saling berhubungan (bersilaturahmi) dengan orang lain secara wajar
7) Mengembangkan proses sosialisai yang wajar antar peserta didik, orang lain dan lingkungannya;
8) Mengembangkan kreatifitas; dan
9) Menjadi pembantu ketika diperlukan.
d. Guru sebagai pemberi inspirasi
Sebagai pemberi inspirasi, guru dapat menggunakan cerita yang baik dan sekiranya dapat menggugah semangat dan memberikan inspirasi kepada peserta didiknya. Dengan menggunakan intonasi suara yang tepat, guru dapat menjadi pembawa cerita yang baik. Sebagai pendengar, siswa akan mengidentifikasikan karakter tokoh yang ada dalam cerita, dapat menganalisa, membenci, dan menilai perilaku manusia.
Dengan memberikan cerita-cerita yang inspiratif, akan tercipta pembelajaran yang membangkitkan pemikiran, gagasan dan ide-ide baru sehingga membangkitkan semangat belajar peserta didik.
g) Pendekatan dalam Pengelolaan Kelas
Berbagai pendekatan dapat dilakukan oleh guru dalam melakukan pengelolaan kelas atau pengelolaan kelas. Sebagai upaya g-uru menciptakan pengelolaan disiplin kelas yang berhasil guna, agar kegiatan pengelolaan kelas dapat berjalan secara maksimal.
Dr. H. Hadari Nawawi menguraikan tentang pendekatan-pendekatan yang harus dilakukan guru di dalam kelas untuk mewujudkan pengelolaan kelas yang efektif, antara lain yaitu:
1. Pendekatan berdasarkan perubahan tingkah laku (Behavior-Modification Approach)
Pendekatan ini bertolak dari sudut pandang Psikologi Behavior yang berasumsi sebagai berikut:
a. Semua tingkah laku yang baik dan yang kurang baik merupakan hasil proses belajar. Asumsi ini mengharuskan seorang guru kelas menyusun program dan suasana yang merangsang terwujudnya proses belajar yang membuat murid mewujudkan tingkah laku yang baik menurut ukuran norma yang berlaku di lingkungan sekitar.
b. Di dalam proses belajar terdapat proses psikologis fundamental berupa penguatan positif (positive reinforcement), hukuman, penghapusan (extinction) dan penguatan negatif (negative reinforcement). Asumsi ini mengharuskan guru melakukan usaha-usaha mengulang-ulangi program atau kegiatan yang dinilai baik (perangsang) bagi terbentuknya tingkah laku tertentu terutama dikalangan murid (respon).
2. Pendekatan berdasarkan suasana emosi dan hubungan sosial (Socio –emotional Climate Approach)
Pendekatan manajemen kelas ini terdapat dua asumsi pokok yang dipergunakan dalam pengelolaan kelas, yaitu:
a. Iklim sosial dan emosional yang baik dalam arti ada hubungan yang harmonis antara guru dengan guru, guru dengan siswa dan siswa dengan siswa merupakan kondisi yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar yang efektif. Asumsi ini mengharuskan seorang guru berusaha menyusun program kelas dan pelaksanaanya yang didasari oleh hubungan manusiawi yang diwarnai sikap saling menghargai dan menghormati antar personal di kelas.
b. Iklim sosial dan emosional yang baik tergantung pada guru dalam usahanya melaksanakan kegiatan belajar mengajar, yang didasari dengan hubungan manusiawi yang efektif. Asumsi ini seorang guru harus mendorong guru-guru agar dapat mewujudkan hubungan manusiawi yang penuh saling pengertian, menghormati, dan saling menghargai.
3. Pendekatan berdasarkan proses kelompok (Group-Process Approach)
Dasar dari pendekatan ini adalah psikologi sosial dan dinamika kelompok yang mengetengahkan dua asumsi sebagai berikut:
a. Pengalaman belajar di sekolah bagi murid berlangsung dalam konteks kelompok sosial. Asumsi ini mengharuskan guru kelas dalam manajemen kelas selalu mengutamakan kegiatan yang dapat mengikutsertakan seluruh personal di kelas. Dengan kata lain lebih mementingkan kepentingan bersama dari pada kegiatan individual.
b. Tugas guru terutama adalah memelihara kelompok belajar agar menjadi kelompok yang efektif dan produktif. Seorang guru harus mampu membentuk dan mengaktifkan murid dalam bekerja sama dalam kegiatan belajar mengajar. Bagi murid proses belajar dalam kelompok (group studies) harus dilaksanakan secara efektif agar hasilnya lebih baik daripada bilaman murid belajar sendiri (produktif).
4. Pendekatan Electic (Alectic Approach)
Pendekatan ini menekankan pada potensial, kreativitas, dan inisiatif guru kelas dalam memilih berbagai pendekatan tersebut di atas berdasarkan situasi yang dihadapinya.
BAB III
Kesimpulan
Dari pembahasan tentang ketrampilan pengelolaan kelas diatas dapat disimpulkan bahwa pengelolaan kelas selalu diperlukan dari waktu kewaktu dan untuk dapat mengelola kelas dengan baik seorang guru harus melengkapi dirinya dengan seperangkat keterampilan dalam mengelola kelas sedangkan pendidikan agama adalah bagian pendidikan yang amat penting yang berkenaan dengan aspek-aspek sikap dan nilai.
Keterampilan pengelolaan kelas perlu dimiliki oleh guru, karena hal ini akan membantu dalam pencapaian tujuan pembelajaran sendiri. Pengelolaan kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru yang ditujukan untuk menciptakan kondisi kelas yang memungkinkan berlangsungnya proses pembelajaran yang kondusif dan maksimal. Pengelolaan kelas ditekankan pada aspek pengaturan (pengelolaan) lingkungan pembelajaran yaitu berkaitan dengan pengaturan orang (siswa) dan barang (fasilitas).
Pada hakikatnya pembelajaran dapat berlangsung dengan baik dan hasil pembelajaran dapat tercapai secara optimal tidak lepas dari peran guru, karena inti dari pembelajaran adalah ketika guru berada di dalam kelas dan dapat mengelola kelasnya dengan baik dan mengkondisikannya sehingga tercipta hasil pembelajaran yang maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
B. Suryosubroto, - Proses Belajar Mengajar di Sekolah, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002
Bagus Permana - Prinsip dasar proses pembelajaran; http: Cah bagus.Blogspot.com, diunduh pada tanggal 23 Oktober 2012 pukul 15.45 WIB
E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional - Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenagkan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya , 2005.
Hadari Nawawi, - Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas, Jakarta: CV Haji Masagung, 1989.
Moh. Uzer Usman - Menjadi Guru Profesional, Bandung: Remaja Rosda Karya, 1990
Syaiful Bahri Djamarah - Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Jakarta: Rineka Cipta, 2000.
Anonym - Komunikasi Efektif dalam Pembelajaran.html diunduh pada tanggal 23 Oktober 2012 Pukul 15.30 WIB
-
Langganan:
Postingan (Atom)
