Tamu hari ini

Minggu, 16 Maret 2014

Kumpulan tugas kuliah terbiyah_ Mata kuliah Profesi Keguruan

IMPLEMENTASI PELAKSANAAN PEMBELAJARAN MENUJU GURU PROFESIONAL Makalah ini di susun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Profesi Keguruan Dosen Pengampu : Panut, S.Pd.MM
Oleh : SRI KARYANAH NIM : FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK) UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN(UNSIQ) JAWA TENGAH DI WONOSOBO 2012 Kata Pengantar Dengan memanjatkan Puji syukur Kehadirat Allah SWT sehingga atas limpahan Hidayahnya kami dapat menyelesaikan penyusunan tugas mata kuliah Profes keguruan ini tanpa hambatan, semoga dengan makalah sederhana ini dapat memberikan tambahan wawasan kepada kita semua. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Dosen pengampu, yang telah memberikan tugas kepada kami sehingga makalah ini dapat kami selesaikan serta menambah wawasan kami tentangarti penting sebuah pelaksanaan dalam proses belajar mengajar, harapan kami ada setelah selesai penyusunan makalah ini dapat mengubah pola pembelajaran yang selam ini dilaksanakan. Kami menyadari dalam penusunan tugas ini masih dapat kekurangan, kami dengan segenap kerendahan hati kami senantiasa memohon kritik dan saran yang sifatnya konstruktif dari pembaca sekalian sehingga dalam penyusunan tugas berikutnya akan lebih baik lagi. Akhirnya semoga kehadiran makalah sederhana ini bermanfaat Wonosobo, Oktober 2012 Penyusun, Daftar isi Halaman Judul ................................................................................................... i Kata pengantar................................................................................................... ii Daftar isi ............................................................................................................ iii BAB I : Pendahuluan ............................................................................ 1 Latar Belakang masalah........................................................... 1 Rumusan Masalah.................................................................... 2 BAB II : Pembahasan Ketrampilan pengelolaan Kelas .............................................. 3 BAB III : Penutup.................................................................................... 14 Kesimpulan.............................................................................. 14 Daftar Pustaka BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan membina anak didik, baik secara individual maupun klasikal, di sekolah maupun diluar sekolah. Mengajar adalah perilaku yang universal, artinya semua orang dapat melakukannya, akan tetapi bagi seorang guru untuk dapat mengajar dengan baik diperlukan keahlian. Guru dituntut bukan hanya menguasai materi saja, tetapi juga harus menguasai tentang pendidikan dan pengajaran, disamping syarat-syarat khusus yang lain yang akan menjadikannya sebagai guru yang berkompeten dalam bidangnya, sehingga proses interaksi edukatif dapat berjalan dengan optimal dan mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif bagi anak didik. Dalam proses belajar mengajar guru mempunyai peran yang sangat penting dalam menentukan kualitas pembelajaran yang dilaksanakan, dalam arti guru harus selalu menciptakan suasana yang kondusif dalam lingkungan pendidikan dan menjalankan tugasnya di dalam kelas dengan semaksimal mungkin demi tercapainya tujuan pendidikan. Guru memiliki peranan yang sangat sentral, baik sebagai perencana, pelaksana, maupun evaluator pembelajaran. Maka seorang guru hendaknya tidak memiliki pandangan bahwa mengajar hanya merupakan tugas yang telah menjadi kebiasaan sehingga dia terpaku dengan cara dan gaya lama, tidak ada dinamika. Tetapi sebaliknya, guru diharapkan untuk selalu melakukan inovasi dan kreativitas untuk mengembangkan proses pembelajaran kearah yang lebih baik, efektif dan efisien. Secara konseptual, guru dan murid adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam proses belajar dan mengajar. Keduanya adalah sumber ilmu untuk bersama menggali pengalaman hidup sendiri, dan secara otomatis ia memiliki ilmu yang setara dengan yang lain. Pola hubungan yang setara semacam ini memberi peluang datangnya ilmu dari segala sumberilmu, karena masing-masing individu memiliki pengalaman sendiri-sendiri. Oleh karena itu, hubungan yang dialogis antara guru dan murid adalah langkah awal untuk membuka lebar-lebar pintu transformasi Dengan demikian untuk menciptakan situasi yang kondusif demi memperoleh hasil yang efektif dalam proses belajar mengajar tidaklah cukup ditunjang oleh penguasaan materi saja, tetapi guru juga harus mempunyai keterampilan pengelolaan kelas yang diharapkan akan dapat membantu dalam menjalankan tugas dalam interaksi edukatif. Keterampilan pengelolaan kelas merupakan faktor dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru untuk meningkatkan mutu pengajaran, sehingga output yang dihasilkan akan maksimal. B. Rumusan Masalah Dari latar belakang di atas, dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut; bagaimana implementasi keterampilan pengelolaan kelas dalam pembelajaran? BAB II Pembahasan Masalah Keterampilan Pengelolaan Kelas a) Pengertian Keterampilan Pengelolaan Kelas Keterampilan adalah kegiatan yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot yang lazimnya tampak dalam kegiatan jasmaniah, seperti menulis, mengetik, olah raga, dan sebagainya. Pengelolaan adalah proses, cara, perbuatan mengelola, proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan kebijaksanaan dan pencapaian tujuan. Sedangkan kelas adalah tempat berlangsungnya pembelajaran yang di dalamnya terdapat guru menyampaikan materi pada siswa pada waktu yang sama. Di dalam belajar mengajar, kelas adalah tempat yang mempunyai ciri khas yang digunakan untuk belajar yang memerlukan konsentrasi, untuk menciptakan suasana kelas yang menunjang kegiatan belajar yang efektif. Pengelolaan kelas dapat diartikan suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar atau yang membantu dengan maksud agar dicapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan. Pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif, dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran. b) Tujuan Pengelolaan Kelas Keterampilan mengelola kelas mempunyai tujuan, yang baik untuk anak didik maupun guru, yakni: 1. Untuk Anak didik a. Mendorong anak didik mengembangkan tanggung jawab individu terhadap tingkah lakunya dan kebutuhan untuk mengontrol diri sendiri. b. Membantu anak didik mengetahui tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib kelas dan memahaminya. Bahwa teguran guru merupakan suatu peringatan dan bukan kemarahan. c. Membangkitkan rasa tanggung jawab untuk melibatkan diri dalam tugas dan pada kegiatan yang diadakan. 2. Untuk Guru a. Mengembangkan pemahaman dalam penyampaian pelajaran dengan pembukaan yang lancar dan kecepatan yang tepat. b. Menyadari kebutuhan anak didik dan memiliki kemampuan dalam memberikan petunjuk secara jelas kepada anak didik. c. Mempelajari bagaimana merespon secara efektif terhadap tingkah laku anak didik yang mengganggu. d. Memiliki strategi remedial yang lebih komprehensif yang dapat digunakan, dalam lingkungannya dengan masalah tingkah laku anak didik yang muncul di dalam kelas. Pengelolaan kelas yang dilakukan guru bukan tanpa tujuan, karena ada tujuan itulah guru selalu berusaha mengelola kelas. Darwyn Syah mengutip dari Syaiful Bahri dan Aswan Zain bahwa pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakan kondisi dalam kelompok kelas yang berupa lingkungan kelas yang baik, yang memungkinkan siswa berbuat sesuai dengan kemampuannya, dengan pengelolaan kelas produknya harus sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, yaitu dengan penyediaan fasilitas bermacam-macam kegiatan belajar mengajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual di kelas. c) Ruang Lingkup Pengelolaan Kelas Pengelolaan kelas yang efektif akan terwujud manakala dengan melaksanakan aspek ruang lingkup di dalamnya. Menurut Dr. Suharsimi Arikunto ada dua aspek yang harus dilakukan menyangkut pengelolaan yang menyangkut siswa dan pengelolaan yang menyangkut fisik (ruangan, perabot, dan alat pelajaran). Sedangkan dalam menciptakan suasana yang dapat menimbulkan gairah belajar, meningkatkan prestasi belajar, dan memberi bimbingan dan bantuan terhadap siswa diperlukan pengorganisasian kelas yang memadai untuk menumbuhkan dan mempertahankan kelas yang efektif, yang harus memiliki: tujuan pengajaran, pengaturan waktu yang tersedia, pengaturan ruang dan perabot pelajaran di kelas, dan pengelompokan siswa dalam belajar. d) Prinsip-Prinsip Pengelolaan Kelas Sebagai upaya memperkecil masalah gangguan dalam pengelolaan kelas, sebagai prasyarat menciptakan satu model pembelajaran yang efektif dan efisien, beberapa prinsip-prinsip pengelolaan kelas yang dapat dipergunakan antara lain hangat dan antusias, tantangan, bervariasi, keluwesan, penekanan pada hal-hal yang positif, dan penanaman disiplin diri. 1. Hangat dan Antusias Guru yang hangat dan penuh keakraban dengan anak didik selalu menunjukkan semangat tanggung jawabnya dan keinginannya untuk melaksanakan tugasnya sebagai guru dengan sebaik-baiknya, hal ini akan berhasil dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas. 2. Tantangan Tantangan dapat diberikan kepada siswa dengan menggunakan kata-kata, tindakan, cara kerja, atau bahan-bahan dalam rangka meningkatkan gairah anak didik untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang. 3. Bervariasi Variasi dalam penggunaan alat atau media, atau alat bantu, gaya mengajar guru, pola interaksi antara guru dan siswa akan dapat mengurangi munculnya gangguan dalam proses pembelajaran, serta dapat meningkatkan perhatian siswa. 4. Keluwesan Keluwesan tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan dari siswa serta menciptakan iklim belajar mengajar yang efektif. 5. Penekanan pada Hal-Hal yang Positif Dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan serta mengarahkan siswa berpikir dan berbuat kepada hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian anak didik pada hal-hal yang negatif. 6. Penanaman Disiplin Diri Disiplin belajar siswa dan disiplin kelas menjadi tujuan akhir dari pengelolaan kelas, dan guru mengupayakan agar siswa dapat mengembangkan disiplin diri sendiri, oleh karena itu guru sebaiknya selalu mendorong anak didik untuk melaksanakan disiplin diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi teladan mengenai pengendalian diri dan pelaksanaan tanggung jawab serta menjadi tuntunan kepada guru untuk selalu berdisiplin dalam segala hal bila ingin anak didiknya ikut berdisiplin dalam berbagai hal. e) Komponen Keterampilan Pengelolaan Kelas Komponen-komponen ketrampilan pengelolaan kelas ini pada umumnya dibagi menjadi dua bagian, yaitu ketrampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif) dan ketrampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal. 1. Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif). Keterampilan ini berkaitan dengan kemampuan guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran serta kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan hal-hal tersebut yang meliputi keterampilan sebagai berikut: a. Menunjukkan sikap tanggap Tanggap terhadap perhatian, keterlibatan, ketidakacuhan, dan keterlibatan siswa dalam tugas-tugas di kelas. Siswa merasa bahwa guru hadir bersama mereka dan tahu apa yang mereka perbuat. b. Memberikan Perhatian Pengelolaan kelas yang efektif terjadi bila guru mampu memberi perhatian kepada beberapa kegiatan yang berlangsung dalam waktu yang sama. Membagi perhatian dapat dilakukan dengan cara visual dan verbal. c. Memusatkan Perhatian Kelompok Kegiatan siswa dalam belajar dapat dipertahankan apabila dari waktu ke waktu guru mampu memusatkan perhatian kelompok terhadap tugas-tugas yang dilakukan. d. Memberikan Petunjuk-petunjuk Yang Jelas Hal ini berhubungan dengan cara guru dalam memberikan petunjuk agar jelas dan singkat dalam pelajaran sehingga tidak terjadi kebingungan pada diri siswa. e. Menegur Apabila terjadi tingkah laku siswa yang mengganggu kelas atau kelompok dalam kelas, hendaklah guru mengaturnya secara verbal. Teguran verbal yang efektif ialah yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1. Tegas dan jelas tertuju kepada siswa yang mengganggu serta kepada tingkah lakunya yang menyimpang. 2. Menghindari peringatan yang kasar dan menyakitkan atau yang mengandung penghinaan. 3. Menghindari ocehan atau ejekan, lebih-lebih yang berkepanjangan. f. Memberi Penguatan Dalam hal ini guru dapat menggunakan dua cara yaitu: Pertama, Guru dapat memberikan penguatan kepada siswa yang mengganggu, yaitu dengan jalan menangkap siswa tersebut ketika ia sedang melakukakan tingkah laku yang tidak wajar, kemudian menegurnya. Kedua, Guru dapat memberikan penguatan kepada siswa yang bertingkah laku wajar dan dengan demikian menjadi contoh atau teladan tentang tingkah laku positif bagi siswa yang suka mengganggu. Dengan demikian pemberian penguatan dalam pembelajaran, adalah penting untuk menumbuhkan motivasi belajar dan rasa percaya diri siswa. 2. Keterampilan Yang Berkaitan dengan Pengembalian Kondisi Belajar Yang Optimal Keterampilan ini berkaitan dengan respon guru terhadap gangguan siswa yang berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat mengadakan tindakan remedial untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal. f) Guru Sebagai Agen Pembelajaran Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (SNP) pasal 28, dikemukakan bahwa : “Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”. Dalam penjelasan Undang-undang tersebut tercantum bahwa: “ yang dimaksud pendidik sebagai agen pembelajaran (learning agent) adalah peran pendidik antara lain sebagai fasilitator, motivator, pemacu, maupun pemberi inspirasi. a. Guru sebagai fasilitator Sebagai fasilitgator,tugas guru yang paling utama adalah “to facilitate of learning” (memberi kemudahan belajar), bukan hanya menceramahi, atau mengajar, apalagi menghajar peserta didik, kita perlu guru yang demokratis, jujur dan terbuka, serta siap dikritik oleh peserta didiknya. Guru sebagai fasilitator sedikitnya harus memiliki 7(tujuh) sikap seperti yang diidentifikasikan Rogers ( dalam Knowles,1984) berikut ini : 1) Tidak berlebihan mempertahankan pendapat dan keyakinannya, atau kurang terbuka; 2) Dapat lebih mendengarkan peserta didik, terutama tentang aspirasi dan perasaannya; 3) Mau dan mampu menerima ide peserta didik yang inovatif, dan kreatif, bahkan, bayang sulit sekalipun 4) Lebih meningkatkan hubungan dengan peserta didik seperti halnya terhadap bahan pembelajaran; 5) Dapat menerima balikan(feedback), baik yang sifatnya positif mauoun yang negatif,dan menerimanya sebagai pandangan yang konstruktif terhadap diri dan perilakunya; 6) Toleransi terhadap kesalahan yang diperbuat peserta didik selama proses pembelajaran;dan 7) Menghargai prestasi peserta didik, meskipun biasanya mereka sudah tau prestasi yang dicapainy. b. Guru sebagai motivator Motivasi merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, karena peserta didik akan belajar dengan sungguh-sungguh apabila memiliki motivasi yang tinggi. Oleh karena itu, untuk meningktkan kualitas pembelajaran guru harus mampu membangkitkan motivasi belajar peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran. c. Guru sebagai pemacu Sudah menjadi kodrat manusia sebagai mahluk sosial, artinya manusia selalu membutuhkan orang lain untuk membantu dirinya. Demikian juga peserta didik yang selalu membutuhkan bantuan guru untuk mengembangkan dirinya secara optimal. Guna mengembangkan bakat, minat, kemampuan dan potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Dalam upaya memacu pembelajaran, guru harus memberikan kemudahan belajar terhadap seluruh siswanya. Dalam hal ini guru harus kreatif, profesional, dan menyenangkan dengan memposisikan sebagai berikut : 1) Orang tua yang penuh kasih sayang pada peserta didiknya; 2) Teman, tempat mengadu, dan mengutarakan perasaan bagi perasaan bagi peserta didiknya; 3) Fasilitator yang selalu siap memberikan kemudahan, dan melayani peserta didik sesuai minat, kemampuan, dan bakatnya; 4) Memberikan sumbangan pemikiran kepada orang tua untuk dapat mengetahui permasalahan yang dihadapi anak dan memberikan saran pemecahannya; 5) Memupuk rasa percaya diri, berani dan bertanggung jawab. 6) Membiasakan peserta didik untuk saling berhubungan (bersilaturahmi) dengan orang lain secara wajar 7) Mengembangkan proses sosialisai yang wajar antar peserta didik, orang lain dan lingkungannya; 8) Mengembangkan kreatifitas; dan 9) Menjadi pembantu ketika diperlukan. d. Guru sebagai pemberi inspirasi Sebagai pemberi inspirasi, guru dapat menggunakan cerita yang baik dan sekiranya dapat menggugah semangat dan memberikan inspirasi kepada peserta didiknya. Dengan menggunakan intonasi suara yang tepat, guru dapat menjadi pembawa cerita yang baik. Sebagai pendengar, siswa akan mengidentifikasikan karakter tokoh yang ada dalam cerita, dapat menganalisa, membenci, dan menilai perilaku manusia. Dengan memberikan cerita-cerita yang inspiratif, akan tercipta pembelajaran yang membangkitkan pemikiran, gagasan dan ide-ide baru sehingga membangkitkan semangat belajar peserta didik. g) Pendekatan dalam Pengelolaan Kelas Berbagai pendekatan dapat dilakukan oleh guru dalam melakukan pengelolaan kelas atau pengelolaan kelas. Sebagai upaya g-uru menciptakan pengelolaan disiplin kelas yang berhasil guna, agar kegiatan pengelolaan kelas dapat berjalan secara maksimal. Dr. H. Hadari Nawawi menguraikan tentang pendekatan-pendekatan yang harus dilakukan guru di dalam kelas untuk mewujudkan pengelolaan kelas yang efektif, antara lain yaitu: 1. Pendekatan berdasarkan perubahan tingkah laku (Behavior-Modification Approach) Pendekatan ini bertolak dari sudut pandang Psikologi Behavior yang berasumsi sebagai berikut: a. Semua tingkah laku yang baik dan yang kurang baik merupakan hasil proses belajar. Asumsi ini mengharuskan seorang guru kelas menyusun program dan suasana yang merangsang terwujudnya proses belajar yang membuat murid mewujudkan tingkah laku yang baik menurut ukuran norma yang berlaku di lingkungan sekitar. b. Di dalam proses belajar terdapat proses psikologis fundamental berupa penguatan positif (positive reinforcement), hukuman, penghapusan (extinction) dan penguatan negatif (negative reinforcement). Asumsi ini mengharuskan guru melakukan usaha-usaha mengulang-ulangi program atau kegiatan yang dinilai baik (perangsang) bagi terbentuknya tingkah laku tertentu terutama dikalangan murid (respon). 2. Pendekatan berdasarkan suasana emosi dan hubungan sosial (Socio –emotional Climate Approach) Pendekatan manajemen kelas ini terdapat dua asumsi pokok yang dipergunakan dalam pengelolaan kelas, yaitu: a. Iklim sosial dan emosional yang baik dalam arti ada hubungan yang harmonis antara guru dengan guru, guru dengan siswa dan siswa dengan siswa merupakan kondisi yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar yang efektif. Asumsi ini mengharuskan seorang guru berusaha menyusun program kelas dan pelaksanaanya yang didasari oleh hubungan manusiawi yang diwarnai sikap saling menghargai dan menghormati antar personal di kelas. b. Iklim sosial dan emosional yang baik tergantung pada guru dalam usahanya melaksanakan kegiatan belajar mengajar, yang didasari dengan hubungan manusiawi yang efektif. Asumsi ini seorang guru harus mendorong guru-guru agar dapat mewujudkan hubungan manusiawi yang penuh saling pengertian, menghormati, dan saling menghargai. 3. Pendekatan berdasarkan proses kelompok (Group-Process Approach) Dasar dari pendekatan ini adalah psikologi sosial dan dinamika kelompok yang mengetengahkan dua asumsi sebagai berikut: a. Pengalaman belajar di sekolah bagi murid berlangsung dalam konteks kelompok sosial. Asumsi ini mengharuskan guru kelas dalam manajemen kelas selalu mengutamakan kegiatan yang dapat mengikutsertakan seluruh personal di kelas. Dengan kata lain lebih mementingkan kepentingan bersama dari pada kegiatan individual. b. Tugas guru terutama adalah memelihara kelompok belajar agar menjadi kelompok yang efektif dan produktif. Seorang guru harus mampu membentuk dan mengaktifkan murid dalam bekerja sama dalam kegiatan belajar mengajar. Bagi murid proses belajar dalam kelompok (group studies) harus dilaksanakan secara efektif agar hasilnya lebih baik daripada bilaman murid belajar sendiri (produktif). 4. Pendekatan Electic (Alectic Approach) Pendekatan ini menekankan pada potensial, kreativitas, dan inisiatif guru kelas dalam memilih berbagai pendekatan tersebut di atas berdasarkan situasi yang dihadapinya. BAB III Kesimpulan Dari pembahasan tentang ketrampilan pengelolaan kelas diatas dapat disimpulkan bahwa pengelolaan kelas selalu diperlukan dari waktu kewaktu dan untuk dapat mengelola kelas dengan baik seorang guru harus melengkapi dirinya dengan seperangkat keterampilan dalam mengelola kelas sedangkan pendidikan agama adalah bagian pendidikan yang amat penting yang berkenaan dengan aspek-aspek sikap dan nilai. Keterampilan pengelolaan kelas perlu dimiliki oleh guru, karena hal ini akan membantu dalam pencapaian tujuan pembelajaran sendiri. Pengelolaan kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru yang ditujukan untuk menciptakan kondisi kelas yang memungkinkan berlangsungnya proses pembelajaran yang kondusif dan maksimal. Pengelolaan kelas ditekankan pada aspek pengaturan (pengelolaan) lingkungan pembelajaran yaitu berkaitan dengan pengaturan orang (siswa) dan barang (fasilitas). Pada hakikatnya pembelajaran dapat berlangsung dengan baik dan hasil pembelajaran dapat tercapai secara optimal tidak lepas dari peran guru, karena inti dari pembelajaran adalah ketika guru berada di dalam kelas dan dapat mengelola kelasnya dengan baik dan mengkondisikannya sehingga tercipta hasil pembelajaran yang maksimal. DAFTAR PUSTAKA B. Suryosubroto, - Proses Belajar Mengajar di Sekolah, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002 Bagus Permana - Prinsip dasar proses pembelajaran; http: Cah bagus.Blogspot.com, diunduh pada tanggal 23 Oktober 2012 pukul 15.45 WIB E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional - Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenagkan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya , 2005. Hadari Nawawi, - Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas, Jakarta: CV Haji Masagung, 1989. Moh. Uzer Usman - Menjadi Guru Profesional, Bandung: Remaja Rosda Karya, 1990 Syaiful Bahri Djamarah - Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Jakarta: Rineka Cipta, 2000. Anonym - Komunikasi Efektif dalam Pembelajaran.html diunduh pada tanggal 23 Oktober 2012 Pukul 15.30 WIB -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar