Tamu hari ini

Minggu, 16 Maret 2014

makalah metode pembelajaran

PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL (CONTEKSTUAL LEARNING) Makalah di susun Guna memenuhi tugas mata kuliah Metode Pembelajaran MI/SD Dosen pengampu Suyatno,M.Pd.I Disusun oleh : KELOMPOK III TRI WULANDARI NIM : 0610300182203120115 UMI ZULAIKHA NIM : 0610300182203120116 SOBIKHAN NIM : 0610300182203120117 SRI KARYANAH NIM : 0610300182203120118 SUTONGAT NIM : 0610300182203120119 NUR HAYAT NIM : 0610300182203120124 WAHYU HIDAYAT NIM : 0610300182203120122 FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN ( FITK ) UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN ( UNSIQ ) JAWA TENGAH DI WONOSOBO 2013 Kata Pengantar Dengan memanjatkan Puji syukur Kehadirat Allah SWT sehingga atas limpahan Hidayahnya kami dapat menyelesaikan penyusunan tugas mata kuliah Profes keguruan ini tanpa hambatan, semoga dengan makalah sederhana ini dapat memberikan tambahan wawasan kepada kita semua. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Dosen pengampu, yang telah memberikan tugas kepada kami sehingga makalah ini dapat kami selesaikan serta menambah wawasan kami tentangarti penting sebuah pelaksanaan dalam proses belajar mengajar, harapan kami ada setelah selesai penyusunan makalah ini dapat mengubah pola pembelajaran yang selam ini dilaksanakan. Kami menyadari dalam penusunan tugas ini masih dapat kekurangan, kami dengan segenap kerendahan hati kami senantiasa memohon kritik dan saran yang sifatnya konstruktif dari pembaca sekalian sehingga dalam penyusunan tugas berikutnya akan lebih baik lagi. Akhirnya semoga kehadiran makalah sederhana ini bermanfaat Wonosobo, Maret 2013 Penyusun, Daftar isi Halaman Judul Daftar isi …………………………………………………………………….. ii Kata pengantar ……………………………………………………………... iii BAB I : PENDAHULUAN………………………………………………… Latar Belakang masalah ………………………………………. 1 BAB II : PEMBAHASAN a. Pengertian Pembelajaran kontekstual …………………… 3 b. Penerapan CTL di dalam kelas ………………………….. 4 c. Karakteristik Pembelajaran kontekstual …………………. 9 d. Tujuan Pembelajaran kontekstual ………………………... 11 e. Kelebihan dan kekurangan pembelajaran kontekstual ……. 12 f. Perbedaan pembelajaran kontekstual dengan konvensional 14 BAB III : PENUTUP Kesimpulan ……………………………………………………. 16 Daftar Pustaka BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG MASALAH Perkembangaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat menuntut sumber daya manusia yang memilih keahlian dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan zaman sekarang. Oleh sebab itu pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam upaya untuk membebaskan manusia dari keterpurukan, keterbelakangan, kebodohan, kehinaan, dan ketertinggalan globalisasi. Peranan pendidikan dalam kehidupan manusia adalah sebagai upaya untuk mengangkat dan dapat mengatasi permasalahan kehidupan. Pendidikan di Indonesia pada umumnya mempunyai ciri-ciri cenderung memperlakukan peserta didik berstatus sebagai obyek, guru berfungsi sebagai pemegang otoritas tertinggi keilmuan dan indoktrinator, materi bersifat subject-oriented, dan manajemen bersifat sentralistis. Pendidikan yang demikian menyebabkan praktik pendidikan kita mengisolir diri dari kehidupan riil yang ada di luar sekolah, kurang relevan antara apa yang diajarkan dengan kebutuhan dalam pekerjaan, terlalu terkonsentrasi pada pengembangan intelektual yang tidak berjalan dengan pengembangan individu sebagai satu kesatuan yang utuh dan berkepribadian. Hal ini mengidentifikasikan bahwa dalam pembelajaran di sekolah guru masih menggunakan cara-cara tradisional atau konvensional. Oleh karena itu, pemerintah mengadakan satu terobosan untuk meningkatan mutu pendidikan dengan terjadi pergeseran paradigma pendidikan dari teacher active learning menjadi student active learning. Terobosan yang telah dilakukan pemerintah ini menunjukkan bahwa peran aktif siswa dalam pembelajaran merupakan suatu keharusan. Salah satu strategi pembelajaran yang dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan dengan produktif dan bermakna bagi siswa adalah strategi pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yang selanjutnya disebut CTL. Strategi CTL fokus pada siswa sebagai pembelajar yang aktif, dan memberikan rentang yang luas tentang peluang-peluang belajar bag mereka yang menggunakan kemampuan-kemampuan akademik mereka untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan nyata yang kompleks (Depdiknas, 2002: 15). Dengan menerapkan pembelajaran menggunakan pendekatan contextual teaching and learning di harapkan siswa memiliki pengalaman baru dalam belajar, yakni pembelajaran diluar kelas, pengalaman belajar sama dan pengalaman untuk menyampaikan gagasan atau informasi di depan kelas disamping para siswa memperoleh pengalaman langsung dalam menemukan pengetahuannya. BAB II PEMBAHASAN 1. Pengertian Pembelajaran Kontekstual Model pembelajaran dengan kontekstual adalah terjemahan dari istilah Contextual Teaching and Learning (CTL). Kata contextual berasal dari kata context yang berarti “ hubungan, konteks, suasana, atau keadaan”. Dengan demikian contextual diartikan “ yang berhubungan dengan suasana (konteks)”, sehingga CTL dapat diartikan sebagai suatu pembelajaran yang berhubungan dengan suasana tertentu. Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antar pengetahuan yang dimiliki dengan penerapan dalam kehidupan mereka sebagai angota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alami dalam bentuk kegiatan siswa berkerja dan mengalami bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi lebih dipentingkan dari pada hasil belajar. Menurut Johnson dalam Nurhadi, sistem CTL merupakan suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara mengubungkan dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadi,sosialnya, dan budayanya. Pembelajaran kontekstual merupakan suatu model pembelajaran yang memberikan fasilitas kegiatan belajar siswa untuk mencari, mengolah, dan menemukan pengalaman belajar yang lebih bersifat konkret (terkait dengan kehidupan nyata) melalui keterlibatan aktivitas siswa dalam mencoba, melakukan, dan mengalami sendiri. Dengan demikian, pembelajaran tidak sekadar dilihat dari sisi produk, tetapi yang terpenting adalah proses. 2. Penerapan CTL di dalam Kelas. Model penerapan pembelajaran berbasis CTL ini memiliki tujuh komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual di kelas. Ketuju komponen utama itu adalah konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), refleksi (Reflection), dan penilaian sebenarnya (Auhentic Assessment). Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan kontekstual jika menerapkan ketujuh komponen tersebut dalam pembelajaranya. a. Konstruktivisme (Constructivism) Konstruktivisme (Constructivism) merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran kontekstual, bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekoyong-koyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, dan kaidah yang kontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. b. Bertanya (Questioning) Bertanya (Questioning) merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis kontekstual. Bertanyak dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membingbing, dan menilai kemampuan berfikir siswa. Dan bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiry, yaitu menggali informasi, menkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahui. c. Menemukan (Inquiry) Menemukan (Inquiry) merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh oleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta- fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkan. d. Masyarakat belajar (Learning Community) Masyarakat Belajar (Learning Community) merupakan pembelajaran yang diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari shering antar teman, antar kelompok, antar mereka yang tahu, ke mereka yang belum tahu. Dalam kelas pendekatan kontekstual, kegiatan pembelajaran dapat dilakukan dalam kelompok-kelompok belajar: siswa yang pandai mengajari siswa yang lemah, dan yang tahu memberi tahu yang belum tahu. Masyarakat belajar bisa tercipta apabila ada proses komunikasi dua arah. e. Pemodelan (Modeling) Pemodelan (Modeling) adalah sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, pemodelan pada dasarnya membahasakan gagasan yang dipikirkan, mendemonstrasikan, dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswa-siswanya melakukan. Dalam pembelajaran kontekstual guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang melibatkan siswa. Seorang siswa bisa ditunjuk untuk memberi contoh temen-temannya. f. Refleksi (Reflection) Refleksi (Reflection) merupakan bagian penting dari pembelajaran kontekstual. Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir kebelakang tentang apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Refleksi merupakan gambaran terhadap kegiatan atau pengetahuan yang baru saja diterima. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima. g. Penilaian sebenarnya (Auhentic Assessment). Penilaian Sebenarnya (Authentic Assessment) adalah proses yang di lakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian ini diperlukan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak. Apakah pengalaman belajar siswa memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun metal siswa Sebelum melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan Kontekstual, tentu saja terlebih dahulu guru harus membuat desain/skenario pembelajarannya, sebagai pedoman umum dan sekaligus sebagai alat kontrol dalam pelaksanaannya. Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh guru atau pengajaran ketika menyusun rencana pembelajaran yang kontekstual adalah sebagai berikut. a. Pendahuluan/orientasi Pendahuluan yang baik mengandung 3 unsur yaitu deskripsi singkat, relevansi atau manfaat belajar dan menjelaskan tujuan belajar. b. Konstruktivisme Tampak dari pemberian kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan mengkonstruksi sedikit demi sedikit pengetahuan yang sedang dipelajari melalui keterlibatan aktif dalam belajar. c. Penemuan/inkuiri Berupa pemberian kebebasan kepada siswa untuk bereksplorasi, ada keterlibatan intelektual dan emosial termasuk keterlibatan fisik jika diperlukan. Pengajar sebagai fasilitator. d. Pertanyaan-pertanyaan Mengembangkan pertanyaan-pertanyaan siswa tampak dari cara guru atau pengajar mendorong, membimbing, dan berupaya meningkatkan kemajuan berfikir siswa. Siswa menggali informasi, mengkonfirmasi, dan mengarahkan terhadap perhatian pada hal-hal yang belum diketahui. e. Masyarakat belajar Tampak dari aktivitas belajar secara kelompok (kooperatif/kolaboratif), tanggung jawab bersama dalam menyelesaikan tugas dan berbagai pengalaman. f. Permodelan Memberi contoh yang dapat ditiru atau dijadikan sebagai acuan oleh siswa termasuk petunjuk mengerjakan sesuatu. Pengajar bukan satu-satunya model. g. Refleksi Mengajak siswa berfikir tentang apa yang baru saja dipelajari, menghubungkan pengetahuan yang baru dipelajari dengan pengetahuan yang sudah dimiliki. h. Penilaian autentik Lebih mengutamakan proses daripada hasil. Dilakukan dengan berbagai cara, dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran langsung. Yang diukur keterampilan bukan mengingat fakta semata. i. Waktu Dalam satu kali tatap muka, pengaturan penggunaan waktu yang baik adalah 5% pendahuluan, 80-90% waktu belajar, 10-15% penutup. j. Penutup Berupa penyimpulan, pembuatan ringkasan, pemberian umpan balik Beberapa model pembelajaran yang merupakan aplikasi pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut. a) Model Pembelajaran Langsung Inti dari model pembelajaran langsung adalah guru mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan tertentu, selanjutnya melatihkan keterampilan tersebut selangkah demi selangkah kepada siswa b) Model Pembelajaran Berbasis Masalah Inti dari pembelajaran berbasis masalah adalah guru menghadapkan siswa pada situasi masalah kehidupan nyata (autentik) dan bermakna, memfasilitasi siswa untuk memecahkannya melalui penyelidikan/ inkuari dan kerjasama, memfasilitasi dialog dari berbagai segi, merangsang siswa untuk menghasilkan karya pemecahan dan peragaan hasil. c) Model Pembelajaran Koperatif Inti model pembelajaran koperatif adalah siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil, yang anggota-anggotanya memeliki tingkat kemampuan yang berbeda (heterogen). Dalam memahami suatu bahan pelajaran dan menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerjasama sampai seluruh anggota menguasai bahan pelajaran tersebut. Dalam variasinya ditemui banyak tipe pendekatan pembelajaran kooperatif misalnya STAD (Student Teams Achievement Division), Jigsaw, Investigasi Kelompok, dan Pendekatan Struktural. 3. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual Karakteristik pembelajaran kontekstual dikemukakan oleh beberapa ahli. Menurut Johnson (2002:24), ada delapan komponen utama dalam system pembelajaran kontekstual, seperti dalam rincian berikut : a) Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningful connections). Siswa dapat mengatur diri sendiri sebagai orang yang belajar secara aktif dalam mengembangkan minatnya secara individual, orang yang dapat bekerja sendiri atau bekerja dalam kelompok, dan orang yang belajar sambil berbuat (learning by doing) b) Melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan (doing significant work). Siswa membuat hubungan-hubungan antara sekolah dan berbagai konteks yang ada dalam kehidupan nyata sebagai pelaku bisnis atau anggota masyarakat c) Belajar yang diatur sendiri (sell-regulated learning). Siswa melakukan pekerjaan yang signifikan: ada tujuannya, ada hubungan dengan penentuan pilihan, dan ada produknya d) Bekerja sama (collaborating). Siswa dapat bekerja sama. Guru membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok e) Berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking). Siswa dapat menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi secara kritis dan kreatif: dapat menganalisis, memecahkan masalah, membuat keputusan, dan menggunakan logika dan bukti f) Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nurturing the individual). Siswa memelihara pribadinya g) Mencapai standar yang tinggi (reaching high standards). Siswa mengenal dan mencapai standar yang tinggi: mengidentifikasi tujuan dan memotivasi siswa untuk mencapainya. h) Menggunakan penilaian autentik (using authentic assessment). Siswa menggunakan pengetahuan akademis dalam konteks dunia nyata untuk suatu tujuan yang bermakna. Pendapat lainnya yaitu Rusman (2009:248) yang memaparkan proses pembelajaran dengan menggunakan CTL harus mempertimbangkan karakteristik-karakteristik : (1) kerja sama, (2) saling menunjang, (3) menyenangkan dan tidak membosankan, (4) belajar dengan bergairah, (5) pembelajaran terintegrasi, (6) menggunakan berbagai sumber, (7) siswa aktif, (8) sharing dengan teman, (9) siswa kritis guru kreatif, (10) dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, (11) laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan praktikum, karangan siswa, dan lain-lain. Sehubungan dengan hal tersebut, terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran kontekstual seperti dijelaskan oleh Dr. Wina Sanjaya, M.Pd (2005:110), sebagai berikut: a) Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activiting kowledge), artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari., dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain. b) Pembelajaran kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge). Pengetahuan baru itu diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan, kemudian memperhatikan detailnya. c) Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tapi untuk dipahami dan diyakini, miasalnya dengna cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan. d) Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying kowledge) artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan perilaku siswa. e) Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan atau penyempurnaan strategi. 4. Tujuan Pembelajaran Kontekstual Sistem CTL adalah proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan jalan menghubungkan mata pelajaran akademik dengan isi kehidupan sehari-hari, yaitu dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain penggunaan pembelajaran Konstekstual bermotto : “Belajar dengan penuh makna”. Pengetahuan yang bermakna diperoleh dari suatu proses yang bermakna pula, yaitu melalui penerimaan, pengolahan dan pengendapan, untuk kemudian dapat dijadikan sandaran dalam menanggapi gejala yang muncul kemudian. Melalui model CTL, pengalaman belajar bukan hanya terjadi dan dimiliki ketika seseorang siswa berada di dalam kelas, tetapi jauh lebih penting dari itu adalah bagaimana membawa pengalaman belajar tersebut keluar dari kelas, yaitu pada saat ia dituntut untuk menanggapi dan memecahkan permasalahan yang nyata yang dihadapi sehari-hari. Berikut tujuan-tujuan pembelajaran kontekstual : a) Untuk memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengaitkan materi tersebut dalam konteks kehidupan mereka sehari-hari sehingga siswa memiliki pengetahuan atau keterampilan yang secara refleksi dapat diterapkan dari permasalahan ke permasalahan lainnya. b) Agar dalam belajar itu tidah hanya sekedar menghafal tetapi perlu dengan adannya pemahaman c) Menekankan pada pengembangan minat pengalaman siswa. d) Untuk melatih siswa agar dapat berfikir kritis dan terampil dalam memproses pengetahuan agar dapat menemukan dan menciptakan sesuatau yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain. e) Agar pembelajaran lebih produktif dan bermakna. f) Untuk mengajak anak pada suatu aktivitas yang mengaitkan materi akademik dengan konteks kehidupan sehari-hari. g) Agar siswa secara individu dapat menemukan dan mentransfer informasi-informasi kompleks dan siswa dapat menjadikan informasi itu miliknya sendiri. 5. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Kontekstual Adapun beberapa keunggulan dari pembelajaran Kontekstual adalah : 1) Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut untuk dapat menagkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sihingga tidak akan mudah dilupakan. 2) Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”. 3) Kontekstual adalah model pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa secara penuh, baik fisik maupun mental 4) Kelas dalam pembelajaran Kontekstual bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi, akan tetapi sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan mereka di lapangan 5) Materi pelajaran dapat ditemukan sendiri oleh siswa, bukan hasil pemberian dari guru. 6) Penerapan pembelajaran Kontekstual dapat menciptakan suasana pembelajaran yang bermakna Sedangkan kelemahan dari pembelajaran Kontekstual adalah sebagai berikut : a. Diperlukan waktu yang cukup lama saat proses pembelajaran Kontekstual berlangsung. b. Jika guru tidak dapat mengendalikan kelas maka dapat menciptakan situasi kelas yang kurang kondusif c. Guru lebih intensif dalam membimbing. Karena dalam metode CTL, guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ”penguasa” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya. d. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide–ide dan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi–strategi mereka sendiri untuk belajar. Namun dalam konteks ini tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diterapkan semula. e. Pengetahuan yang didapat oleh setiap siswa akan berbeda-beda dan tidak merata. 6. Perbedaan Pembelajaran kontekstual dengan pembelajaran Konvensional Karakteristik model pembelajaran kontekstual dalam penerapannya di kelas, antara lain : 1. Siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran 2. Siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengoreksi 3. Pembelajaran dihubungkan dengan kehidupan nyata atau masalah 4. Perilaku dibangun atas kesadaran diri. 5. Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman 6. Peserta didik tidak melakukan yang jelek karena dia sadar hal itu keliru dan merugikan. 7. Bahasa diajarkan dengan pendekatan komunikatif, yakni peserta didik diajak menggunakan bahasa dalam konteks nyata. Karakteristik model pembelajaran konvensional dalam penerapannya di kelas, antara lain : 1. Siswa adalah penerima informasi 2. Siswa cenderung belajar secara individual 3. Pembelajaran cenderung abstrak dan teoritis 4. Perilaku dibangun atas kebiasaan 5. Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan 6. Peserta didik tidak melakukan yang jelek karena dia takut hukuman 7. Bahasa diajarkan dengan pendekatan struktural. Pembelajaran kontekstual memiliki perbedaan dengan pembelajaran konvensional, tekanan perbedaannya yaitu pembelajaran kontekstual lebih bersifat student centered (berpusat kepada peserta didik) dengan proses pembelajarannya berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan peserta didik bekajar dan mengalami. Sedangkan pembelajaran konvensional lebih cenderung teacher centered (berpusat kepada pendidik), yang dalam proses pembelajarannya siswa lebih banyak menerima informasi bersifat abstrak dan teoritis. BAB III Penutup Berdasarkan Uraian di atas, dapat kami simpulkan bahwa : 1. Model-model pembelajaran sosial merupakan pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan di kelas dengan melibatkan peserta didik secara penuh (student center) sehingga peserta didik memperoleh pengalaman dalam menuju kedewasaan, peserta dapat melatihkemandirian peserta didik dapat belajar dari lingkungan kehidupannya. 2. Dalam menyiapkan anak untuk bersosialisasi di masyarakat, sejak dini anak harus sudah mengenal lingkungan kehidupannya. Model pembelajaran kontekstual merupakan upaya pendidik untuk menghubungkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik melakukan hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka. 3. Dalam rangka menuju kedewasaan, seorang anak harus dilatih untuk belajar mandiri. Belajar mandiri merupakan suatu proses, dimana individu mengambil inisiatif denganatau tanpa bantuan orang lain. Dalam pembelajaran mandiri menekankan pada keaktifan peserta didik yang lebih bersifat student centered daripada teacher centered sehingga pendidik lebih banyak berperan sebagai fasilitator dan teman (partner). DAFTAR PUSTAKA Depdiknas, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Pendidikan Lanjutan Pertama Pendekatan Kontekstual (Centered Teaching and Learning), Jakarta, 2003 Fatah Yasin, Dimensi – Dimensi Pendidikan Islam, Malang: UIN – Malang Pres , 2008 M. Silberman dan Fatah Yasin, Dimensi – Dimensi Pendidikan Islam , Malang: UIN – Malang Pres 2008, Nurhadi, dkk , Pembelajaran konstektual dan penerapannya dalam KBK , Malang: Universitas Negeri Malang, 2004 Hartadi, M.Pd.I dalam Http ://Pembelajaran kontekstual.Blogspot.com /09/10/2007/001.html diunduh tanggal 18 April 2013 Wi na Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Kompetensi , Jakarta: Kencana, 2005,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar